Kepemimpinan Pendidikan

Style Kepemimpinan Situasional Lembaga Pendidikan

Pengantar

Tulisan yang berjudul style kepemimpinan situasional untuk lembaga pendidikan ini disajikan dalam rangka menambah, melengkapi referensi dilembaga pendidikan kejuruan umumnya dan SMK Putra Bangsa pada khususnya. Dalam makalah ini Penulis mencoba menguraikan sekelumit tentang teori kepemimpinan khususnya gaya kepemimpinan situasional, betapapun organisasi akan berhasil atau bahkan gagal sebagian besar ditentukan oleh kepemimpinan, suatu ungkapan yang mulia mengatakan bahwa pemimpinlah yang bertanggung jawab atas kegagalan pelaksanaan pekerjaan, pemimpin dalam suatu pekerjaan, merupakan ungkapan yang mendudukan posisi pemimpin dalam suatu organisasi pada posisi yang terpenting. Sementara digambarkan pula bahwa pemimpin itu adalah penggembala dan setiap penggembala akan ditanyakan tentang perilaku yang penggembalaannya.
I. Rasional
Persoalan kepemimpinan selalu memberikan kesan yang menarik, oleh sebab itu permasalahan kepemimpinan merupakan topik menarik dan dapat dimulai dari sudut mana saja bahkan dari waktu ke waktu menjadi perhatian manusia.

Ada yang berpendapat masalah kepemimpinan itu sama halnya dengan sejarah manusia, kepemimpinan dibutuhkan manusia, karena adanya suatu keterbatasan dan kelebihan-kelebihan tetapi pada manusia disatu pihak manusia terbatas kemampuannya untuk memimpin. Disinilah timbulnya kebutuhan akan pemimpin dan kepemimpinan.

Kalau ditelusuri lebih lanjut, betapa pentingnya pemimpin dan kepemimpinan dalam suatu kelompok jika terjadi suatu konflik atau perselisihan antara orang-orang dalam kelompok, maka organisasi mencari alternatif pemecahannya supaya terjamin keteraturan dan dapat ditaati bersama, dengan demikian terbentuklah aturan-aturan norma-
norma atau kebijakan untuk ditaati agar konflik tidak terulang lagi. Ketika itulah orang-orang mulai mengidentifikasikan dirinya pada kelompok, dalam hal ini peranan pimpinan sangat dibutuhkan.

SMK Putra Bangsa Bontang sebagai salah satu subsistem Pendidikan di Kota Bontang mencoba meraih tujuan-tujuannya sesuai dengan harapan kelembagaan / institusi tentu sangat dibutuhkan pemimpin yang memiliki komitmen yang tinggi serta gaya kepemimpinan yang relevan, oleh sebab itu Kepala SMK Putra Bangsa Bontang sejak tahun 1998 telah mencoba menerapkan salah satu gaya kepemimpinan yaitu kepemimpinan situasional. Kepemimpinan situasional dipandang sebagai sebuah pendekatan pemimpin untuk mencapai tujuan organisasi, yang teori telah dikeluarkan oleh Hersey dan Blanchard dengan berdasarkan saling berhubungan hal-hal sebagai berikut ;

a. Jumlah petunjuk & pengarahan yang diberikan oleh pemimpin
b. Jumlah dukungan sosioemosional yang diberikan oleh pemimpin
c. Tingkat kesiapan atau kematangan para pengikut yang ditunjukan
dalam melaksanakan tugas khusus, fungsi atau tujuan tertentu

Konsep ini melengkapi pemimpin dengan pemahaman dari hubungan antara gaya kepemimpinan yang efektif, tingkat kematangan para pengikutnya.

Variabel situasional yang penting misalnya ;

Organisasi, tugas pekerjaan, pengawasan, waktu kerja, akan tetapi dalam kepemimpinan situasional ini hanyalah pada perilaku pemimpin dan bawahannya saja. Perilaku pengikut atau bawahan ini amat penting untuk mengetahui kepemimpinan situasional, Karena bukan saja pengikut sebagai individu bisa menerima atau menolak pemimpinnya, akan tetapi sebagai pengikut secara kenyataannya dapat menentukan kekuatan pribadi

apapun dipunyai pemimpin.

II. Gaya Dasar

Dalam hubungannya dengan perilaku pemimpin yang menggunakan pendekatan teori kepemimpinan situasional ini, ada 2 yang biasanya dilakukan oleh bawahan / atau pengikutnya yakni :

a. Perilaku mengarahkan
b. Perilaku mendukung

Perilaku mengarahkan dapat diformulasikan sebagai sejauh mana seorang pemimpin melibatkan dalam komunikasi satu arah, bentuk pengarahan dalam komunikasi satu arah ini antara lain ; menetapkan peranan yang seharusnya dilakukan pengikut memberitahukan pengikut tentang apa yang seharusnya bisa dikerjakan dimana melakukan hal tersebut, bagaimana melakukannya dan melakukan pengawasan secara ketat terhadap pengikutnya.
Perilaku mendukung adalah sejauh mana seorang pemimpin melibatkan diri dalam komunikasi dua arah, misalnya ; mendengar menyediakan dukungan dan dorongan, memudahkan interaksi dan melibatkan para pengikut dalam pengambilan keputusan.

Gaya dasar tersebut dianggap paling ideal untuk diterapkan di lembaga pendidikan umumnya dan SMK Putra Bangsa khususnya, mengingat produknya sumber daya manusia maupun subjek dan objeknya adalah manusia dengan dinamika peradabannya yang berkembang secara terus-menerus. Fleksibilitas sangat diperlukan dalam upaya menggali potensi sumber daya yang ada untuk dioptimalkan kinerjanya dengan demikian maka dapat dieliminir hambatan-hambatan dalam mencapai tujuan.
Empat gaya dasar dalam pengambilan keputusan :

  • Instruksi ; perilaku pemimpin yang tinggi pengarahan dan rendah dukungan ; komunikasi satu keputusan diumumkan dan pelaksanaannya diawasi secara ketat.
  • b. Konsultasi ; Perilaku pemimpin yang tinggi pengarahan dan tinggi dukungan ; diikuti dengan arah dan perilaku mendukung dengan mendengar perasaan pengikut dengan keputusan yang dibuat, serta ide-ide dan saran-saran mereka.
  • Partisipasi ; Perilaku yang tinggi dukungan dan rendah pengarahan, posisi control atas pemecahan masalah dan pembuat keputusan dipegang secara bergantian, komunikasi dua arah ditingkatkan dan peranan pemimpin adalah secara aktif mendengar.
  • Delegasi ; Perilaku pemimpin yang rendah dukungan dan rendah pengarahan, pemimpin mendiskusikan masalah bersama-sama dengan bawahan sehingga tercapai kesepakatan mengenai definisi makalah yang kemudian proses pembuatan keputusan didelegasikan secara keseluruhan kepada bawahan. Pada gaya ini bawahan memiliki kontrol untuk memutuskan tentang bagaimana cara pelaksanaan tugas.

 

Pemimpin memberikan kesempatan yang luas bagi bawahan untuk melaksanakan pertunjukan mereka sendiri karena mereka memikul tanggung jawab dalam pengarahan perilaku mereka sendiri.
III. Titik Pusat Puncak Kepemimpinan Situasional
Pola umum yang biasanya terlibat antara perilaku berorientasi pada
tugas atau perilaku hubungan atau bagi kombinasi dari keduanya. Dua
bentuk perilaku tugas dan hubungan tersebut merupakan titik pusat dari
konsep kepemimpinan situasional yang dapat dijelaskan sebagai
berikut ;

a. Perilaku tugas

Suatu perilaku seorang pemimpin untuk mengatur dan merumuskan peranan- peranan dari anggota kelompok atau para pengikut ; oleh masing-masing anggota, kapan dilakukan dan dimana bagaimana. Selanjutnya disifati oleh usaha-usaha untuk menciptakan pola organisasi yang mantap, jalur komunikasi yang jelas cara-cara melakukan jenis pekerjaan yang harus

dicapai.

b. Perilaku hubungan

Suatu perilaku seorang pemimpin yang ingin memelihara hubungan antara pribadi diantaranya dirinya dengan anggota-anggota kelompok dengan cara membuka lebar-lebar jalur komunikasi, mendelegasikan tanggung jawab dan memberikan kesempatan pada bawahan untuk menggunakan potensinya. Hal ini disifati oleh dukungan sosioemosional, kesetiakawanan dan kepercayaan.
IV. Potensi Kelembagaan SMK Putra Bangsa Bontang
a. Tenaga Pendidik dan Kependidikan

Belum terpenuhinya kebutuhan tenaga guru dan non guru yang sesuai dengan harapan kaidah-kaidah serta instrument yang ada, masih terjadi variasi ketenagaan / sumber daya manusia baik dari latar belakang pendidikan maupun sifatnya, oleh sebab itu diperlukan kiat-kiat yang lebih luwes untuk mendekatkan berbagai karakter kedalam visi dan garis kebijakan organisasi.
b. Siswa

Siswa merupakan faktor penting yang harus diperhatikan mengingat variabel ini merupakan subjek dan objek yang memiliki karakter, culture dan dinamika. Sebagai hal yang tidak kalah pentingnya siswa adalah merupakan unsur pelanggan yang perlu mendapat pelayanan dan kepuasan.
c. Lingkungan Sosial

Bontang sebagai kota yang sedang berkembang dengan penduduk ± 105.000 jiwa, dimana culture budayanya sangat heterogen artinya tidak didominasi oleh salah satu suku / daerah. Oleh sebab itu berbagai pendekatan harus digunakan khususnya pendekatan kemanusiaan dan kualitas hasil produk. Secara umum siswa yang belajar di SMK Putra Bangsa Bontang adalah anak dari golongan ekonomi menengah kebawah dalam arti setelah lulus dapat langsung kerja.

V. Strategi Pemecahan Konflik
a. Konflik antara pribadi
Cara yang digunakan untuk memecahkan persoalan konflik antara
pribadi ;
Membuka Ødiri
ØMenerima umpan balik
ØMenaruh percaya pada orang lain
Tidak Ømenutup diri mengenai informasi
Disamping dengan cara menggunakan strategi dasar ;
1. Lose-lose
2. Win-lose
3. Win-win

b. Konflik organisasi
Konflik ini sebenarnya adalah konflik antara pribadi dan konflik
pribadi yang mengambil tempat dalam suatu organisasi tertentu ; namun
demikian konflik ini akn mencoba melihat hubungan dengan tatanan
organisasi yang bersendikan orang-orang yang bekerja sama untuk
mencapai tujuan bersama.
Secara konseptual ada 4 sumber konflik ;

  1. Suatu situasi yang tidak menunjukkan keseimbangan tujuan yang ingin dicapai.
  2. Terdapatnya sarana-sarana yang tidak seimbang
  3. Terdapatnya suatu persoalan status yang tidak selaras
  4. Timbulnya persepsi yang berbeda

VI. Kesimpulan

  1. Kepemimpinan adalah aktifitas untuk mempengaruhi perilaku orang agar mau diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu.
  2. Dalam organisasi yang variabelnya banyak maka kepemimpinan yang relevan adalah pendekatan kepemimpinan situasional.

Oleh : Rediyono,SH.MM

Tentang Drs. Kasdi Haryanta

Laki-laki ini lahir di Bantul, Yogyakarta, 6 April 1962. Pendidikan dasar dan menengahnya ditempuh di daerah tanah kelahirannya itu. Pendidikan tinggi digelutinya di IKIP Sanata Dharma, Yogyakarta. Drs. Kasdi Haryanta mulai mengajar di SMA Xaverius 1 Palembang sejak 1988. Beliau pernah mengajar di SMA Xaverius 1 Filial, SMA Xaveriuus 4, SMA Kusuma Bangsa (2000-2002). mengajar di STT MUsi untuk mata kuliah Bahasa Indonesia (1996-2007) Menggeluti kehidupan keluarga dilakukannnya bersama wanita Kristina Tri Yulianti, guru Matematika SMA Xaverius 3 Palembang. Keluarganya dikaruniai dua anak: 1) Dyah Pramadita Harkrisnani; 2) Daru Yogiswara Harkristanta. "Pertanggungjawabkanlah kepercayaan Tuhan tatkala memberi kita karunia dan rahmat kepada melalui pikiran, perkataan, dan tindakan/perbuatan dalam kehidupan sehari-hari tatkala kita memberikan sikap kasih kepada sesama," demikian ujarnya mengenai implementasi prinsip hidup dan kehidupan.(@doet)
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s