SEKOLAH EFEKTIF

A. Sekolah Efektif 

Pada dasarnya sekolah efektif oleh Mortimore (1996) diartikan sebagai :
‘ A high performing school, through its well-established system promotes the highest academic and other achievements for the maximum number of students regardless of its socio-economic background of the families.

Menurut Peter Mortimore (1991) sekolah efektif dicirikan sebagai (1) Sekolah memiliki visi dan misi yang jelas dan dijalankan dengan konsisten; (2) Lingkungan sekolah yang baik, dan adanya disiplin serta keteraturan di kalangan pelajar dan staf; (3) Kepemimpinan kepala sekolah yang kuat; (4) Penghargaan bagi guru dan staf serta siswa yang berprestasi; (5) Pendelegasian wewenang yang jelas; (6) Dukungan masyarakat sekitar; (7) Sekolah mempunyai rancangan program yang jelas; (8) Sekolah mempunyai fokus sistemnya tersendiri; (9) Pelajar diberi tanggung jawab; (10) Guru menerapkan strategi-strategi pembelajaran inovatif; (11) Evaluasi yang berkelanjutan; (12) Kurikulum sekolah yang terancang dan terintegrasi satu sama lain; (13) Melibatkan orang tua dan masyarakat dalam membantu pendidikan anak-anaknya.

Penelitian dan pengembangan menuju terciptanya sekolah efektif dewasa ini sudah berevolusi sejak munculnya laporan James Coleman dari Univesitas Hopkins, Amerika Serikat tahun 1966. Laporan Coleman ini dibuat berdasarkan survei yang dilakukannya bersama beberapa kolega dari Univesitas Vanderbilt bekerja sama dengan Departemen Pendidikan Amerika. Coleman melaporkan bahwa sekolah-sekolah asuhan Pemerintah Amerika Serikat sedikit sekali membawa dampak positif terhadap prestasi peserta didik. Sementara itu, justru lingkungan keluarga yang sangat berpengaruh bagi peningkatan prestasi peserta didik.

Dari berbagai hasil penelitian para ahli pendidikan sejak tahun 1979 sampai tahun 2007, sebuah sekolah efektif ditandai dengan: (1) kepemimpinan kepala sekolah yang efektif; (2) lingkungan kerja yang kondusif ditandai dengan adanya kolaborasi dan kerja tim; (3) kejelasan tujuan pendidikan di sekolah yang berfokus pada pencapaian prestasi siswa yang tinggi; perencanaan yang dibangun secara kolaboratif; (4) stabilitas dan pengembangan staf secara terpadu dan berkelanjutan; (5) fokus sekolah pada pencapaian prestasi siswa yang tinggi; (6) lingkungan belajar yang aman; (7) alat ukur monitoring keberhasilan belajar siswa yang komprehensif; (8) pengakuan/pengarahan terhadap prestasi siswa; (9) sumber daya sekolah yang memadai untuk pencapaian prestasi balajar; (10) dukungan pemerintah kabupaten; dan (11) partisipasi orang tua dan masyarakat luas yang tinggi.
Sedangkan Hasil kajian tentang sekolah efektif menjelaskan tentang faktor-faktor dalam sekolah efektif dapat dijelaskan dalam tabel berikut: 

Tabel 1. Hasil Lima Studi Tentang Sekolah Efektif 
Purkey & Smith, 1983 Levine & Lezotte, 1990 Scheerens, 1992 Cotton, 1995 Sammons, Hillman & Mortimore, 1995
Strong leadership Outstanding leadership Educational leadership School management and organization, leadership and school inprovement, leadership and planning Professional leadership
Clear goals on basic skills Focus on central learning skills Planning and learning goals and school-wide emphasis on learning Concentration on teaching and learning
Orderly climate, achievement-oriented policy, cooperative atmosphere Productive climate and culture Pressure to achieve, consensus, cooperative planning, orderly atmosphere Planning and learning goals, curriculum planning and development Shared vision and goals, a learning environment, positive reinforcement
High expectations High expectations Strong teacher-student interaction High expectation
Frequent evaluation Appropriate monitoring Evaluative potential of the school, monitoring of pupil progress Assessment (district, school, classroom level) Monitoring progress
Time on task, reinforcement, streaming Effective instructional arrangements Structured teaching, effective learning time, opportunity to learn Classroom management, organization and instruction Purposeful teaching
In-service training / staff development Practice-oriented staff development Professional development and collegial learning A learning organization
 Slient parental involvement Parent support Parent-community involvement Home-school partnership
  External stimuli to make schools effective
Phisical and material school characteristics
Teacher experience
School context characteristics Distinct school interactions
Equity
Special programmes Pupil rights and responsibilities
 Sumber: EFA Global Monitoring Report 2005, hal. 66
Tabel tersebut menjelaskan bahwa salah satu faktor sekolah efektif dikenal sebagai ‘keterlibatan orangtua’, ‘dukungan orangtua’, ‘keterlibatan orangtua-msyarakat’, atau ‘hubungan keluarga-sekolah’. Dari beberapa faktor sekolah efektif tersebut, hasil studi di negara maju menunjukkan adanya lima faktor yang paling berpengaruh terhadap efektivitas suatu sekolah (EFA Global Monitoring Report 2005, hal. 66), yaitu:
1. Strong eduational leadership ( terkait dengan pendidik dan tenaga kependidikan )
2. Emphasis on acquiring basic skills ( terkait dengan kurikulum) 
3. An orderly and secure environment ( terkait dengan konteks/lingkungan);
4. High expectations of pupil attainment ( terkait dengan peserta didik )
5. Frequent assessment of pupil progress ( terkait dengan proses pembelajaran) 

B. Karakteristik sekolah Efektif
Shannon dan Bylsma (2005) mengidentifikasi 9 karakteristik sekolah-sekolah berpenampilan unggul (high performing schools). Untuk mewujudkannya mereka berjuang dan bekerja keras dalam waktu yang relatif lama. Kesembilan karakteristik sekolah efektif berpenampilan unggul itu meliputi:
1. Fokus bersama dan jelas 
2. Standar dan harapan yang tinggi bagi semua siswa 
3. Kepemimpinan sekolah yang efektif 
4. Tingkat kerja sama dan komunikasi inovatif 
5. Kurikulum, pembelajaran dan evaluasi yang melampaui standar 
6. Frekuensi pemantauan terhadap belajar dan mengajar tinggi 
7. Pengembangan staf pendidik dan tenaga kependidikan yang terfokus 
8. Lingkungan yang mendukung belajar 
9. Keterlibatan yang tinggi dari keluarga dan masyarakat 
 
Apabila dikaitkan antara kelima faktor sekolah efektif tersebut, tampak nyata bahwa kelima faktor tersebut dalam tulisan ini juga dikenal sebagai dimensi-dimensi mutu pendidikan. Dengan kata lain, dapat disebutkan bahwa sekolah efektif tidak lain dan tidak bukan adalah juga sebutan untuk pendidikan yang bermutu. Pendidikan yang bermutu tidak hanya Prestasi siswanya mencakup keunggulan akademik, tetapi juga non-akademik seperti keberhasilan dalam olahraga dan peningkatan gairah belajar. Karena itu, ukuran keberhasilan prestasi siswa pun bukan hanya dilihat berdasarkan hasil-hasil ujian berupa angka melainkan juga aspek-aspek non kognitif seperti kehadiran, partisipasi aktif di kelas, dan bahkan angka drop out. Dan sekolah efektif juga memerlukan dukungan orangtua dan masyarakat, yang diwadahi dalam lembaga yang dikenal dengan Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah.  

C. Model Sekolah Efektif dalam Konteks Pendidikan di Indonesia 
Sejenak melihat realitas manajemen sekolah di Indonesia sampai akhir tahun 1990-an, pernyataan Anda mungkin sama seperti Coleman bahwa sekolah-sekolah yang ada hanya memberikan sedikit sumbangan terhadap peningkatan prestasi siswa karena berbagai alasan. Misalnya para kepala sekolah hanyalah perpanjangan tangan birokrat. Mereka hanya bertanggung jawab terhadap birokrat yang membebaninya dengan berbagai tugas administratif dengan imbalan insentif yang minim. Para kepala sekolah cenderung otoriter dalam mengambil keputusan di sekolah. Jangankan menggugah orangtua dan masyarakat untuk berpartisipasi dalam mengambil keputusan di sekolah, melibatkan mereka saja tidak pernah. Guru-guru juga tidak profesional dalam mengajar, tapi ngotot mendesak pemerintah agar gajinya naik. 

Pemerintah sangat adil dan benar mewajibkan para guru untuk lulus sertifikasi dulu baru diberi imbalan setimpal. Betulkah demikian? Kalau betul, mengapa demikian dan siapa yang paling bertanggung jawab? Tak dapat disangkal bahwa orangtua, lingkungan keluarga, aspek-aspek kehidupan sosial, sistem pendidikan yang efektif, dan lingkungan belajar-mengajar di sekolah sungguh berpengaruh besar terhadap peningkatan prestasi peserta didik. Secara khusus, rumah dan sekolah merupakan dua mata rantai yang tak terpisahkan dalam upaya peningkatan prestasi siswa. Persoalannya, dalam konteks pendidikan kita di Indonesia, sejauhmana pemerintah dengan sungguh mendukung kemitraan (partnership) rumah dan sekolah? Bagaimana terciptanya kolaborasi antara rumah dan sekolah melalui konsep partnership dapat menciptakan lingkungan belajar-mengajar yang lebih sehat sehingga prestasi anak didik pun meningkat? 

Berkaitan dengan persoalan pertama, kita boleh berbesar hati karena sesuai Undang- Undang Pendidikan 20/2003 dan panduan Menteri Pendidikan Nasional yang dikeluarkan tahun 2002 dan 2004 untuk Dewan Pendidikan di tingkat Kabupaten/Kota dan Komite Sekolah di level sekolah, Pemerintah pusat sudah menyerahkan kuasa, wewenang, dan tanggung jawab ke tingkat sekolah dalam pengambilan keputusan yang berkaitan dengan kebutuhan di sekolah. Diyakini bahwa sekolahlah yang lebih tahu mengenai kebutuhan sekolah itu sendiri dan sekolahlah yang paling dekat dengan peserta didik. Merekalah orang yang tepat dalam mengambil berbagai keputusan penting di sekolah. Untuk itu, pemerintah pusat harus mengalokasikan dana hibah block grant langsung ke sekolah untuk tujuan efisiensi dan efektivitas. 

Langkah ini seiring sejalan dengan banyak hasil penelitian di banyak negara bahwa pelimpahan wewenang ke sekolah dapat meningkatkan rasa memiliki terhadap sekolah (ownership) pada seluruh komunitas sekolah dan masyarakat, partisipasi orangtua dan masyarakat perlahan-lahan meningkat, dan komitmen guru, kepala sekolah, orang tua dan masyarakat terhadap perbaikan di sekolah lebih tinggi. Pada gilirannya, lingkungan belajar-mengajar di sekolah dapat diperbaiki untuk mendorong terciptanya semangat dan prestasi belajar anak didik. Realitas inilah yang disebut dengan reformasi sekolah.

Namun demikian, reformasi sekolah ini bukan tanpa tantangan. Pertama, kepala sekolah sebagai pemimpin dan manajer sekolah mesti paham dengan situasi baru ini. Agar ia tidak sendirian memikul tanggung jawab yang dilimpahkan pemerintah pusat, ia perlu memupuk sebuah proses pengambilan keputusan partisipatif dan partnership dengan berbagai komponen di sekolah dan masyarakat luas. Untuk itu, Komite sekolah yang merupakan lembaga perwakilan komunitas sekolah (kepala sekolah, staf sekolah baik staf pengajar maupun staf administrasi, orangtua murid, dan siswa ) serta masyarakat luas termasuk tokoh masyarakat, aktivis pendidikan, ahli pendidikan, aktivis LSM, dan bahkan alumni. Sampai di sini, jelaslah bahwa kejelasan peran pemerintah dan partnership di sekolah melalui pengembangan Komite sekolah didukung peran kepemimpinan dan manajemen yang baik.

Tentang Drs. Kasdi Haryanta

Laki-laki ini lahir di Bantul, Yogyakarta, 6 April 1962. Pendidikan dasar dan menengahnya ditempuh di daerah tanah kelahirannya itu. Pendidikan tinggi digelutinya di IKIP Sanata Dharma, Yogyakarta. Drs. Kasdi Haryanta mulai mengajar di SMA Xaverius 1 Palembang sejak 1988. Beliau pernah mengajar di SMA Xaverius 1 Filial, SMA Xaveriuus 4, SMA Kusuma Bangsa (2000-2002). mengajar di STT MUsi untuk mata kuliah Bahasa Indonesia (1996-2007) Menggeluti kehidupan keluarga dilakukannnya bersama wanita Kristina Tri Yulianti, guru Matematika SMA Xaverius 3 Palembang. Keluarganya dikaruniai dua anak: 1) Dyah Pramadita Harkrisnani; 2) Daru Yogiswara Harkristanta. "Pertanggungjawabkanlah kepercayaan Tuhan tatkala memberi kita karunia dan rahmat kepada melalui pikiran, perkataan, dan tindakan/perbuatan dalam kehidupan sehari-hari tatkala kita memberikan sikap kasih kepada sesama," demikian ujarnya mengenai implementasi prinsip hidup dan kehidupan.(@doet)
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s